Jumat, 07 Agustus 2015

HUT LUPSI 4 TAHUN - MENARI SERIMPI

(Atas) Karakteristik Mud Volcano Lupsi dan sekitarnya perhatikan daerah gunung yang asimetri dengan bagian utara melebar, dan berpropagasi ke selatan. Utara Pond Utama (biru muda) mengalami penukikan (subduksi) ke utara ke Pusat Semburan, sementara bagian selatan Danau makin ekspansi ke selatan.
Citra satelit CRISP dan ASTER DMCII dengan pengambilan hari yang berbeda untuk memperkuat fakta lapangan bahwa LUPSI MENARI SERIMPI terus bergerak dengan pola tertentu (dikendalikan patahan?).



Naik Sepeda dengan latar belakang 2 semburan ganda, mengisaratkan situasi lebih terkendali aman menuju aman, kick ada tapi flowrate menimum, mulami masuk model Bleduk Kuwu.

(Atas) Gambaran operasi Kapal Keruk di P25 pasca banjir bandang yang membanjiri lumpur padu dingin, sebelumnya merupakan Basin dengan akumulasi air.




Banjir Bandang Lumpur pekat ke arah Basin P25, hanya dalam 1 malam permukaan lumpur naik 1,5 m kapal keruk karam di lautan lumpur.


Bawah, Postur dan Anatomi Gunung Lumpur dan Danau LUPSI
Atas Semburan Ganda Lupsi dilihat dari utara (TAS) dicirikan puing-puing sisa bangunan warga yang telah dibanjiri lumpur. Akumulasi air meningkat karena lokasinya relatif jauh dari kawah.

Postur Umum Mud Volcano LUPSI pada HUT ke 4 tahun (2006-2010), perhatikan aliran lumpur panas dari kawan dan kaldera ke lereng bawah sangat minim sesuai kondisi lapangan flow rate kecil, ada kick tanpa wave lumpur panas sehingga sesuai model Bleduk Kuwu


(Bawah) Semburan ganda dilihat dari baratlaut (Osaka), perhatikan sisa Osaka yang porak poranda dihantam Banjir Bandang even ke 2009, Lereng bawah telah menyentuh di bagian timurnya.


Semburan Ganda (double eruptions) melingkar Gunung Lupsi 28 Mei 2010, 31 Mei semburan menjadi satu (lihat Citra CRISP 31 Mei 2010)


Penulis naik sepeda sambil melatih otot dan nyali menyaksikan semburan ganda dari selatan.


LUPSI PADA ULANG TAHUN KE 4 MENARI SERIMPI




Pada ulang tahun ke 4 tepatnya pada 29 Mei 2010 Lumpur Panas di Sidorjo (saya populerkan sebagai LUPSI) memperlihatkan perilaku yang menarik perhatian.


Sejak 8 April 2010 merupakan HUT BPLS yang juga kebetulan HUT Penulis, Pusat Semburan Lusi memperlihatkan tanda-tanda akan mati suri, dan bersamaan dengan itu lahirlah 'jabang bayi' LUPSI.

Tanggal 9 April dikukuhkan dengan akte kelahiran imajiner bahwa Lahirlah sang bayi LUPSI diberi nama S-9A (Semburan 9 April) yang sekaligus menutup kehidupan LUSI sejak 29 Mei 2006 (PS-29M). Tempat lahir LUPSI sebelah baratlaut dari Rumah LUPSI yang dicatat sejak awal Januari 2009.


Tanggal 10 April 2010 Lahir LUPSI ke dua yang lokasinya di baratdaya dari S-9A, namun kehidupannya tidak lama, Mei 2010 dinyatakan mati suri.

Dari 10 April Sampai 29 Mei pada HUT LUSI (In memorium) semburan terus berubah jumlah (3 , 2 , 1) dan menari serimpi, bergerak perlahan namun pasti mengikuti pola baratlaut tenggara.


Tanggal 21 April saat citra ASTER DMCII diambil, terlihat LUPSI dengan satu semburan.

Tepat pada HUT Lusi keempat dan LUPSI 2 bulan (sejak 9 April 2010) penulis mengabadikan di pagi hari sebelum matahari terik, bahwa Lupsi merupakan semburan ganda (double eruption).

Nampaknya keberduaan LUPSI tidak bertahan lama, karena tanggal 31 saat citra satelit GeoEye-1 CRISP diambil LUPSI kembali menjadi semburan tunggal.

Pada citra satelit tersebut dapat direkam jejak semburan yang telah mati suri, yang dikontrol oleh kelurusan-2 (lineament) yang ditafsirkan sebagai patahan dengan arah umum barat laut tenggara.

Postur LUPSI 31 Mei 2010 memperlihatkan suatu Mud Volcano dengan geometri lebih berbentuk kubah radial sebelumnya lebih mengkerucut; lereng bawah yang sebelumnya mengalami longsoran (sliding) ekspansi ke dataran, dan yang menarik tidak terlihat adanya aliran Lupsi baru, sebagaimana yang dapat dilihat pada Kaldera dengan warna putih kecoklatan. Kawah dengan semburan dicirikan warna putih dari uap, dan Kaldera dikelilingnya tidak bundar tapi lebih oval dengan sumbu kearah baratlaut tenggara.

Hal menarik bahwa sangat jelas terjadi amblesan di Kawah yang dikonfirmasi dari pengecekan di lapangan terutama dari P 43.

Dari sisi kecepatan semburan terjadi perubahan drastis. Suatu hal yang menggembibarkan bila pada Maret 2010 saat Bapak Presiden RI berkunjung, telah disampaikan kabar gembira bahwa kecepatan semburan menurun cukup signifikan, yang sebelumnya dilaporkan fluktuatif antara 100.000 sampai 60.000. Hari itu kurang dari 50.000m3/hari. Sedangkan perhitungan lebih akuntabel menunjukkan angka yang spektakuler yaitu sekitar 25.000-15.000m3/hari.

Selanjutnya pemantauan secara menerus terhadap perilaku LUPSI tersebut menunjukkan fakta bahwa walaupun Semburan LUPSI ditandai dengan semburan uap (putih) disertai 'Kick' dari lumpur panas ditandai warna abu-abu kehitaman dengan kenampakan 'muncrat', namun tidak disertai adanya gelombang 'wave' aliran panas yang berlanjut, seperti masa-masa lalu dengan skenario kecepatan semburan yang besar (rata-rata 100.000 m3/hari).

Aliran yang terjadi dalam jumlah signifikan adalah tanggal 10 April 2010, dimana terjadi kejadian yang spektakular yang penulis sebut sebagai Banjir Bandang Lumpur (Even ke 4). Dimana dalam waktu satu malam saja lumpur pekat (density mud) yang dingin (seperti lahar), meluncur dengan cepat membanjiri Basin P25 di baratdayanya. Hal ini memberikan implikasi bahwa 2 kapal keruk yang sedang beroperasi, karam ditengah lautan lumpur, dan air sebagai landasan operasi semuanya habis didorong ke selatan (Pond Mindi). Kenaikan permukaan lumpur diperkirakan antara 1 sampai 1,5m (tidak merata).

Citra satelit CRISP 31 Mei dipadukan dengan data lapangan memberikan potret postur LUPSI yang sedang mengalami reorganisasian dari pertumbuhannya mengikuti skema perkembangan suatu mud volcano yang dikendalikan oleh daya energi yang dahsyat dari dalam bumi.


  1. Lupsi mulai menunjukkan model perkembangan dari mud volcano Bleduk Kuwu di Jawa Tengah, dimana semburan dengan Kick lumpur tanpa disertai aluran lumpur, namun diingat bahwa pada Lupsi masih lumpur panas.

  2. Kecepatan aliran sedimen lebih kecil dari kecepatan subsidence, sehingga terjadi perubahan dari pertumbuhan positif sebelumnya menjadi saat ini negatif, di citra satelit terjadi propagasi secara radial.

  3. Walaupun pada 31 Mei 2010 flow rate semburan relatif kecil ~5000 atau mendekati 0 m3/hari, namun fakta lapangan Lusi terus menari serimpi bergerak secara perlahan dengan pola tertentu.

  4. Pada 7 Mei saat dilakukan pemantauan sebelum naskah ini ditulis, di sebelah baratdaya Semburan Utama kembali muncul semburan baru, sebagaimana biasanya berevolusi dari bentuk bubble (gelembung), menjadi semburan dengan kick lumpur tanpa semburan uap, dan bila berlanjut akan dibarengi dengan semburan uap putih (akan dipantau).

  5. Para ahli kebumian dari manca negara saat ini sudah cenderung tidak mempermasalahkan lagi (diterima secara universal) bahwa keberadaan Lupsi sebagai suatu Mud Volcano dari yang berkembang ribuan di dunia, yang merupakan remobilisasi lumpur bertekanan berlebih (over pressure) dari dalam bumi (interior Earth) ke permukaan bumi.

  6. Sedangkan yang sejak kelahirannya yang lebih dipermasahkan oleh Para Ahli Kebumian sejagad adalah penyebab (causing) dan pemicu (trigering) dengan dua kelompok besar antara man-made mud volcano dipicu oleh pemboran eksplorasi atau natural-mud volcano dipicu gempabumi Yogyakarta yang mengaktifkan kembali Patahan Watukosek.

  7. Pengalaman sejarah Ilmu Kebumian terhadap suatu kontroversi sudah merupakan hal yang biasa. Contoh saat datangnya teori Plate Tectonics versus hipotesis Geosyncline, dimana pada akhirnya seiring perjalanan waktu (sekitar sepuluh tahun) dengan bukti-bukti baru yang meyakinkan akhirnya akan diterima secara universal salah satu diantaranya (atau perpaduan diantaranya). Dalam contoh ini akhirnya tanpa suatu voting teori Plate Tectonics diterima oleh ahli kebumian untuk menjelaskan pengendali mekanisme asal-usul bumi dan proses tektonik dunia baru (new global tectonics), termasuk terbentuknya sumber daya alam tidak terbarukan (non-renewable resources) dan terjadinya bencana alam/geologi (natural/geological hazzard) seperti gempabumi/tsunami, letusan gunung api, longsoran, dan mud volcano. Dalam fenomena di atas tidak ada ahli kebumian yang merasa menang atau kalah, semuanya berlangsung dengan alami walupun memerlukan waktu sampai suatu kebenaran dianggap dapat diterima secara universal, setelah itu semuanya memasuki tahap implementasi PARADIGMA BARU TEKNONIK DUNIA BARU DENGAN PENGENDALI MEKANISME PLATE TECTONICS.

  8. Dari segi kebencanaan mud volcano Lusi sebagai paradigma baru Lupsi 31 Mei 2010, dengan tanpa perubahan yang mendasar, maka potensi bahaya geologi (geohazard) yang ditimbulkan langsung semburan Lupsi relatif menurun, demikian dengan flow rate yang relatif kecil (tipe Bleduk Kuwu) maka potensi ancaman dari luapan lumpur panas yang langsung juga menurun. Dalam hal ini kekecualian adalah masih berpotensinya Tanggul Jebol karena akumulasi air yang ekstrim, namun biasanya Lumpur Padu sulit bergerak, kecuali lumpur encer dan fluida air di permukaan (lesson learns sejak tahun 2006).

  9. Ke depan yang masih terus menjadi tantangan adalah deformasi geologi (geohazard) karena Danau Lupsi telah terakumulasi sedimen Lusi yang relatif tebal pada daerah yang luas (sejak Juni 2006), sehingga masih menimbulkan efek beban (loading effect). Karena itu tugas ke depan yang merupakan tantangan adalah bagaimana mengurangi akumulasi sedimen padu di Danau Lusi terutama sektor Barat, dalam hal ini menggunakan senjata yang ada Kapal Keruk.

  10. Hal yang cukup menggembirakan dari Paper Andreas dan Abidin H. yang dipresentasikan di Australia April 2010 disampaikan kecepatan subsidence Lusi sangat spektakuler mengalami penurunan, bila dibandingkan dengan kurun waktu 2006-2007.

  11. Bila kita melihat suatu realita bahwa LUPSI merupakan mud volcano yang sedang dalam pengorganisasian menuju model Bleduk Kuwu, namun masih terus menari (masih sangat dinamis), sehingga penulis menilai suatu realitas bahwa LUPSI masih SULIT DIHENTIKAN.

  12. Dalam kaitan bahwa MUD VOLCANO LUSI MASIH SULIT DIHENTIKAN, kita menyimak satu acuan nyata yang bisa digunakan sebagai pertimbangan: Ahli Kebumian Mark Tingay (2009) dari Asutralia yang sering menulis bersama ahli Mud Volcano Davier R (Durham UK) menyatakan Hanya Ada Satu Mud Volcano yang dihentikan yaitu di lepas pantai Brunei Darusalam, inipun memerlukan waktu 20 Tahun dan menggunakan 20 Relief Well.

  13. Davies R. yang sejak kelahiran Lupsi menjadi populer dengan diagram model perkembangan mud volcano Lusi yang beranggapan Lusi dipicu oleh kegiatan pemboran eksplorasi didekat lokasinya, yang sekaligus menyanggah Manzzini, A (2007) dengan teori Lusi dipicu oleh gempabumi Yogyakartanya. Pada Artikel berjudul menarik DAVID AND GOLITAH BATTLE AGAINST MUD VOLCANO (3 April 2007) pada http://www.terradailly.com/report/David And
Goliath Battle Aggainst Mud Volcano 999.html dari hasil wawancara AFP menyatakan "NO ONE HAS EVER STOPPING A MUD VOLCANO", ditambahkan 'the plumbing of the mud volcano is probably not simple, it could be composed of a number of complek fractures'.
Berikut ini disampaikan foto-foto lapangan yang mendukung suatu pencerahan sebagai akumulai selama lebih 3 tahun menemani langsung LUSI yang penuh dengan DINAMIKA seperti Noni yang Lincah, namun semakin dewasa menuju kematangan dan kita tunggu KEARIFAN SERTA KEBIJAKANNYA. Dengan suatu harapan Tidak menimbulkan Korban atau Bencana Baru, serta SENDI SENDI KEHIDUPAN MASYARAKAT DAPAT DIPULIHKAN, SEKALIGUS RODA PEREKONOMIAN KABUPATEN SIDOARJO DAN PROVINSI JAWA TIMUR SEMAKIN CEPAT BERPUTAR.

TIDAK ADA KAPANPUN DAN DIMANAPUN
BAHWA PEMERINTAH TEGA DAN RELA
MELIHAT MASYARAKAT DAN RAKYATNYA MENDERITA KARENA MUSIBAH DAN BENCANA
MARI KITA MELIHAT KEDEPAN BAHU MEMBAHU MENCARI SOLUSI YANG TERBAIK DENGAN SEGERA MEWUJUDKAN PERUBAHAN DARI BENCANA KE MANFAAT ...SIDOARJO BANGKITLAH 2010.
Salah hormat diiringi Mohon Doa Restunya untuk misi tersebut

Hardi Prasetyo